Monday, October 31, 2011

SHARING IS LOVING - Mutiara Nasihat al Habib Umar






~Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu nescaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat darjatmu di sisi Allah.

~Barangsiapa semakin mengenal kepada Allah nescaya akan semakin takut.

~Barangsiapa yang tidak mahu duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barangsiapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.

~Barangsiapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

~Barangsiapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barangsiapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

~Kedekatan seseorang dengan para Nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

~Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada 'ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

~Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

~Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

~Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

~Barangsiapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

~Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

~Penyatuan seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)

~Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

~Barangsiapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.

~Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

~Beliau r.a. berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi da'ei dan tidak harus menjadi qadhi atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

~Syaitan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasihNya.

~Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.

~Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.

~Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Khaliq.

~Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.

~Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.

~Tidak akan naik pada darjat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

~Barangsiapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.

~Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

~Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.

( Disusun oleh : Ust Ja’far Sodiq al-Munawwar )

Wednesday, October 12, 2011

SHARING IS LOVING - JOM JADI KAYA






Assalamualaikum...Sharing is Loving..Jadilah orang islam yang kaya dengan harta yang diINFAQKAN ke Jalan ILAHI,harta kita yang sebenarnya adalah yang kita gunakan untuk kebaikan agama dan ummah kerana ALLAH,jika kita tidak kaya dengan harta didunia sekalipun pastikan kita menjadi kaya dengan Cinta ALLAH dan TAQWA...JOM USAHA

SHARING IS LOVING - KASIH SAYANG




Assalamualaikum...Sharing is Loving.."1 hal yg membuat kita BAHAGIA adalah KASIH SAYANG dengan izin ALLAH.

Suatu hal yg membuat kita HANCUR adalah PUTUS ASA dan DOSA2 kita.
1 hal yg membuat kita MAJU adalah USAHA dengan Bertawakal pada ALLAH.
1 hal yg membuat kita KUAT adalah BERDO'A KEPADA ALLAH.

Agar hari ini lebih INDAH...
Sebarkanlah KASIH SAYANG kepada sesama kita dan BERBUAT BAIKLAH PADA SEMUA MAKHLUK.
Jangan berPUTUS ASA dalam kemelut kehidupan, terus berUSAHA...
dan selalu BerDO'A kepada yang MAHA ESA"...JOM

SHARING IS LOVING - BERCOUPLE DENGAN ALLAH..JOM




Assalamualaikum..Sharing is Loving....mari kawan2 kita berusaha untuk BERCOUPLE Dengan ALLAH..kasih sayang dari PENCIPTA DAN PENGUASA SELURUH ALAM..memang kadang2 kita gagal dalam usaha kita,kadang2 pasang surut keimanan kita,tapi JANGAN MENGALAH..usaha kita yang bersungguh dan niat kerana ALLAH itu INSYAALLAH lebih besar pada pandangan ALLAH dari hasilnya,KITA CINTA ALLAH,ALLAH CINTA KITA,JOM

Wednesday, September 21, 2011

SHARING IS LOVING - Petua Rasulullah S.A.W buat yang menghidap penyakit kronik.. by Ustaz Zahazan Mohamed






Assalamualaikum...Sharing is Loving ...JOM kita sama2 lakukan dan cuba sedayanya untuk istiqomah..share kan pada orang2 di sekeliling kita...JOM

Petua Rasulullah S.A.W buat yang menghidap penyakit kronik..
by Ustaz Zahazan Mohamed

Sekiranya sahabat mempunyai kenalan yang menghidap penyakit kronik (kanser, kencing manis, sakit jantung, darah tinggi dll) pujuklah dia/mereka untuk mengamalkan solat pada waktu malam (walaupun sekadar 1 rakat witir) kerana dari Salman al-Farisi katanya, telah bersabda Rasulullah saaw;

"Dituntut ke atasmu melakukan solat malam kerana sesungguhnya solat malam itu merupakan antara kebiasaan orang soleh sebelum kamu, sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhanmu, penutup segala kejahatan, penghapus segala dosa dan pembasmi segala penyakit dalam badan."

Menurut guru kami, Al Fadhil Ustaz Wan Nasir Wan Abdul Wahab, pembasmi segala penyakit dalam badan bukan sahaja merujuk kepada menyembuh penyakit tetapi turut bermaksud MENGHALAU penyakit tersebut dari menghinggapi badan si sakit semula.

Mesti cuba tau! Moga Allah menganugerahkan sifat istiqamah kepada kita semua.




Tuesday, September 6, 2011

SHARING IS LOVING - Menanti di alam kubur









Setiap yang bernyawa pasti akan mati, begitu jugalah dengan manusia tiada seorang pun boleh lari dari ajalnya yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Apabila ajal seseorang itu telah sampai malaikat Izrail tetap akan mencabut nyawanya tidak kira di mana seseorang itu berada. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Jumu’ah ayat 8 yang bermaksud:

Maksudnya : " Katakanlah: Sebenarnya maut yang kamu larikan diri daripadanya itu, tetaplah ia akan menemui kamu; kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, lalu Ia memberitahu kepada kamu apa yang kamu telah lakukan (serta membalasnya).  

Begitulah apabila nyawa seseorang telah terpisah daripada jasadnya, maka tinggallah segala apa yang dimilik sama ada ahli keluarga,anak-anak,  saudara mara, pangkat,harta benda dan sebagainya. Jasad yang terbujur kaku akan diurus dan dihantar ke kubur untuk dikebumikan. Pada saat itu, terpisahlah ia ke alam lain iaitu alam kubur atau alam barzakh sementara menunggu hari hisab dan pembalasan di akhirat.

Menurut kamus Lisanul Arab oleh Ibni Manzur, makna alam kubur ialah suatu tempat di antara dunia dan akhirat sebelum dihimpunkan di padang Mahsyar daripada waktu mati hinggalah dibangkitkan atau ia juga bermakna dinding pemisah antara dua alam sejak dari waktu kematian seseorang sehinggalah dia dibangkitkan.Jadi sesiapa yang mati bermakna dia telah memasuki alam barzakh atau alam kubur.  Alam kubur  juga  merupakan tempat permulaan seorang manusia itu dihukum segala amalannya semasa hidup di dunia ini. firman Allah SWT dalam surah al-An’am ayat 62 yang bermaksud:

Maksudnya : " Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Pengawas mereka yang sebenar. Ketahuilah, bagi Allah jualah kuasa menetapkan hukum dan Dialah secepat-cepat Penghitung.

Ketika berada di alam kubur seseorang itu dapat menjangkakan sama ada dia akan mendapat kenikmatan atau kesengsaraan di akhirat kelak. Perkara ini disebut dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmizi, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya kubur itu ialah penginapan pertama antara penginapan akhirat, maka sekiranya seseorang itu terlepas dari seksaannya, maka apa yang akan datang kemudiannya akan lebih mudah lagi dan seandainya seseorang itu tidak terlepas (kandas) daripada (seksaannya), maka yang akan datang sesudahnya akan lebih sukar (keras)."

Bagi orang yang beriman kehidupan mereka di alam kubur dipenuhi dengan segala macam kenikmatan kurniaan Allah SWT. Sebaliknya bagi orang yang syirik, kufur dan ingkar terhadap suruhan dan perintah Allah sudah pasti seksaan dan azab kubur diterima sebagai tanda hukuman yang akan diterima di hari akhirat. Sahabat Nabi bernama Ubaid bin Umair al-Laitsi berkata, “ setiap mayat yang hendak meninggal, pasti liang lahad di mana mayat itu di kubur memanggilnya, “Akulah rumah yang gelap gelita, sunyi dan sendiri. Jika waktu hidupmu kau taat kepada Allah SWT maka aku hari ini akan menjadi rahmat bagimu. Jika kau derhaka, maka hari ini aku akan menjadi seksa bagimu. Siapa memasukinya dengan taat, akan keluar dengan bahagia. Dan sesiapa masuk dengan derhaka, dia akan keluar dengan penuh penyesalan.

Sesungguhnya nikmat dan azab kubur adalah sesuatu yang wajib kita percayai dan yakini kewujudannya kerana ia dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Rasulullah SAW memerintahkan kita agar sentiasa memohon pelindungan daripada Allah SWT dari azab kubur sebagaimana maksud hadis  Rasulullah SAW yang menyuruh para sahabat agar mengamalkan doa seperti berikut: 

“Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku mohon berlindung dari azab api neraka dan aku mohon berlindung dari azab kubur.”(Riwayat Muslim)

Kita wajib berlindung diri dari azab kubur, kerana alam kubur merupakan persinggahan sementara untuk kehidupan selanjutnya. Jika di alam kubur kita mendapat kenikmatan, itulah tanda bahawa kita akan mendapat kemudahan dan kebahagiaan di alam akhirat nanti. Sebaliknya, apabila mendapat azab kubur, itulah petanda bahawa orang tersebut akan mendapat kesulitan di akhirat sebagaimana maksud hadis nabi  SAW: 

“Sesungguhnya kubur itu, adalah singgahan pertama ke akhirat, sekiranya yang singgah itu terselamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih mudah lagi. Dan jika tidak selamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih sukar lagi.” (Riwayat at-Tirmizi)

Ramai umat manusia pada hari ini melupai tentang hakikat sebenar kehidupan dengan gagal mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan menyedari bahawa dirinya akan menjadi penghuni kubur. Ramai daripada kita leka dengan kehidupan dunia. Jika ada di kalangan kita yang mengingati kematian, itu pun hanya dilakukan dengan sambil lewa tanpa merasa takut dan gentar akan kedasyatan azab alam kubur  ini. Mengapa ini berlaku, hal ini berpunca disebabkan hati kita yang terlalu cinta dan sibuk dengan perkara dunia sehingga menyebabkan hati kita keras dan gelap dari cahaya.

Ingatlah bahawa  jalan Allah SWT tidak dapat kita tempuhi dengan telapak kaki tetapi ia dapat ditempuh dengan kekuatan dan kesucian hati. Jika kita merasakan hati kita keras dan beku rawatilah ia dengan melaksanakan beberapa perkara seperti berikut:

Pertama: Gunakanlah masa yang berkualiti ini dengan sentiasa membaca al-Quran dan berzikir.

Kedua: Bersikap tawaduk dan sentiasa merendah diri di hadapan Allah    SWT.
Ketiga: Menghadiri majlis-majlis ilmu. Sedarilah, semakin tinggi ilmu agama seseorang semakin takut dia kepada tuhan-Nya. Di samping itu juga elakkan diri dari menghadiri majlis-majlis yang tidak berfaedah dan membuang masa.
Keempat: Mengingati mati. Seseorang yang sentiasa ingat akan kematian menyebabkan hatinya tertumpu kepada alam akhirat, sekaligus meremehkan dunia dan tidak panjang angan-angan.
Kelima: Menziarahi kubur. Jika hati kita tidak dapat disembuhkan dengan cara sebelum ini maka inilah  cara yang paling berkesan dalam mengubati hati yang keras.  Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

“Ziarahilah kubur kerana ia akan mengingatkanmu kepada kematian”  (Riwayat Muslim)

marilah sama-sama kita menghitung diri kita, bagaimana nasib kita di alam kubur nanti, adakah kita sebahagian dari umat yang akan dirahmati atau akan di azab oleh Allah SWT. Renungilah kehidupan kita selama ini, adakah kita sudah bersedia untuk meninggalkan alam dunia ini, bagaimana dengan amalan kita? adakah sudah mencukupi untuk bertemu dengan Alllah SWT di akhirat kelak. Ingatlah segala amalan kita akan diperhitungkan samada ia berpahala atau berdosa dan semuanya terserah kepada neraca keadilan yang telah ditentukan oleh Allah SWT.  

lngatlah wahai  muslimin sekalian bahawa setiap pergerakan kita sentiasa diawasi oleh dua malaikat iaitu Raqib dan Atid. Elakkan daripada terjerumus ke dalam dosa termasuk melemparkan tuduhan, prasangka buruk serta bercakap bohong. Marilah sama-sama kita merenung firman Allah SWT dalam surah al-Zalzalah ayat 7 dan 8:

Maksudnya: Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat dzarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)! Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)! . "

Monday, September 5, 2011

SHARING IS LOVING - Sukar bangun Subuh? Ini tips nya








Sesungguhnya segala puji-pujian hanya layak bagi Allah Azza Wajalla, selawat dan salam ke atas junjungan Nabi Muhammad SAW.

Antara suasana yang membimbangkan berlaku kepada kebanyakan umat Islam pada hari ini ialah gejala meninggalkan solat Subuh dan meninggalkan solat Subuh berjamaah di Masjid. Meskipun diketahui bahawa mengerjakan solat Subuh khususnya di Masjid secara berjamaah mempunyai kelebihan yang besar di sisi Islam dalam menjana kekuatan Iman namun kini ramai yang mengabaikannya. Malah di kalangan mereka yang mendokong perjuangan Islampun ramai yang kalah untuk bangun awal mengerjakan solat Subuh di Masjid.

Keadaan ini adalah berpunca dari sikap suka berjaga lewat malam samada kerana melakukan aktiviti seperti menonton televisyen, bersukan, makan-makan dan berbual kosong dalam perkara yang tiada manfaat. Inilah yang selalunya menyebabkan umat Islam berjaga hingga lewat malam hingga menyebabkan mereka terlepas keberkatan yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW di awal pagi. Jika kita lihat generasi umat Islam lampau mereka sangat mengambil berat soal tidur awal agar mereka dapat bangun lebih awal untuk melaksanakan ibadah dan seterusnya bekerja di awal pagi dengan perasaan yang segar dan sihat. Oleh kerana itulah kehidupan generasi lampau di kalangan datuk, nenek dan moyang kita sentiasa sihat dan bertenaga di siang hari. Jarang sekali kita dengar mereka ditimpa penyakit atau tekanan perasaan seperti yang berlaku pada ramai orang pada hari ini. 

Oleh kerana itulah Nabi SAW bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Ertinya: “Ya Allah! Berkatilah ummat ku diwaktu paginya”. Hadis riwayat Ahmad

Bagi membantu sahabat-sahabat untuk bangun awal diwaktu pagi supaya dapat bertahajjud, solat sunat dua rakaat sebelum subuh dan solat subuh berjamaah di Masjid, di sini dinukilkan beberapa kaedah yang sedikit-   sebanyak dapat membantu.
Kaedah membantu diri untuk mudah bangun pagi ialah:

1) Tidur awal:

Menjadi kebiasan mereka yang tidur awal akan bangun awal dan sebaliknya mereka yang tidur lewat akan bangun lewat. Oleh kerana itu adalah makruh hukumnya tidur sebelum solat Isyak dan berbual-bual kosong dan membuang masa selepasnya hingga menyebabkan tidur lewat. Namun begitu ada keadaan yang dikecualikan untuk tidur lewat sepertimana yang disebutkan oleh Imam Al-Nawawi dalam huraiannya kepada Sahih Muslim. 

Katanya: Sebab dimakruhkan berbual-bual selepas solat Isyak ialah yang membawa kepada berjaga malam dan dibimbangi akan menyebabkan tertidur nyenyak hingga tertinggal qiamullail atau terlepas solat Subuh pada waktunya atau waktu yang afdhalnya dan adalah makruh berbual-bual selepas solat Isyak iaitu dalam perkara-perkara yang tiada kemaslahatan, adapun sekiranya pada perkara yang ada maslahat dan kebaikan maka tidaklah makruh, seperti mempelajari ilmu, membicarakan kisah orang-orang soleh, berbual dengan tetamu, berbual dengan dengan ahli keluarga bagi mengeratkan hubungan dan menunaikan keperluan mereka, berbual dengan orang musafir bagi menjaga harta dan diri mereka, berbual dalam urusan mendamaikan antara manusia dan membantu mereka dalam perkara kebaikan, menyeru kepada kebaiakan dan mencegah kemungkaran, menunjukkan kepada kemaslahatan dan yang seumpamanya, semua itu tidaklah termasuk dalam perkara makruh”.

Bagi seorang Muslim yang prihatin dia berjaga malam adalah kerana aktiviti perjuangan dan ibadah dan bukannya kerana perbuatan lagho, dan jika sekiranya dia lewat tidurpun dia tetap berusaha dan memastikan bangun awal untuk ke Masjid solat berjamaah subuh.

2) Memelihara adab tidur:

Kunci kedua untuk mudah bangun di waktu subuh ialah memelihara amalan sunnah ketika tidur di waktu malam. Iaitu dengan berwudhuk, ketika di atas pembaringan duduk sambil menghimpunkan kedua-dua belah telapak tangan dan meniupkan ke atasnya selepas membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas kemudian di sapu keseluruh badan dan tidur dengan membaca doa sebelum tidur. Bagi mereka yang sukar bangun pagi, hendaklah memohon bantuan daripada ahli keluarga, kawan atau jiran bagi membantu menggerakkannya untuk bangun di awal pagi atau menyediakan jam loceng. Bagi mereka yang sudah terbiasa bangun awal di waktu subuh selalunya tidak menjadi masalah untuk bangun awal kerana secara fitrah dia akan bangun pada masanya dan tidak perlu kepada faktor luaran untuk menggerakkannya kerana seolah-olah ia sentiasa dibantu oleh para Malaikat untuk bangun awal.Kemudian setelah terjaga hendaklah membaca doa dan janganlah sekali-kali meneruskan tidur kerana ia akan membawa kepada terjaga lewat.

3) Memenuhkan dada dengan Iman dan 'amal soleh':

Keimanan yang kuat adalah merupakan pendorong utama bagi seseorang melakukan sesuatu yang sukar. Mengerjakan qiamullail dan solat Subuh di Masjid adalah suatu amalan yang sukar dan ia tidak dapat dilakukan kecuali oleh mereka yang benar-benar yakin kepada janji kebaikan daripada Allah Taala. Justeru bagi meningkatkan keimanan dalam dada, seseorang itu hendaklah menambahkan amalannya dengan banyak melakukan kebaikan, kerana dengannya hati seseorang itu akan menjadi suci dan bersih yang memudahkan untuk suburnya Iman. Sebaliknya hati yang kotor akan menjadi keras dan kekerasan hati adalah menjadi penghalang kepada seseorang itu untuk melakukan amal ibadah yang sukar seperti solat Subuh berjamaah di Masjid dan qiamullail. Hati boleh menjadi keras kerana dikotori oleh sifat-sifat mazmumah seperti hasad dengki, ujub dan riak atau disebabkan makan dari sumber yang tidak halal.

4) Menjauhi perbuatan maksiat:

Maksiat adalah penghalang bangun solat Subuh dan mengerjakannya di Masjid. Justeru hendaklah kita sentiasa menjauhi segala maksiat. Seperti yang berpunca daripada mata iaitu melihat perkara yang haram seperti melihat aurat wanita, samada melalui televisyen ataupun internet. Juga yang berpunca dari lidah iaitu perbuatan mengata orang, mengeji, mengumpat dan menabur fitnah. Juga yang berpunca dari telinga seperti mendengar hiburan-hiburan haram dan umpatan serta fitnah. Mereka yang melakukan maksiat selalunya sukar untuk bangun solat Subuh atau ke Masjid kerana ia melemahkan naluri beramal soleh dan menghakis keyakinan kepada janji-janji kebaikan daripada Allah Taala. Mata, lidah dan telinga sepatutnya digunakan bagi melihat, membaca dan mendengar perkara kebaikan seperti al-Quran, al-Hadis, ceramah dan lain-lain.

5) Mengetahui kelebihan solat Subuh dan fadhilat mengerjakannya di Masjid.

Hendaklah mengetahui kelebihan dan keistimewaan amalan solat subuh dan mengerjakannya di Masjid kerana dengan mengetahuinya barulah seseorang itu terdorong untuk berlumba melakukannya. Saidina Uthman bin ‘Affan r.a meriwayatkan bahawa beliau telah mendengar Nabi SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Ertinya: Barangsiapa yang solat Isyak secara berjamaah seumpama bangun mengerjakan qiam separuh malam dan barangsiapa mengerjakan solat Subuh secra berjamaah seumpama dia solat keseluruhan malam”. Hadis riwayat Imam Muslim.

Ibnu Mas ‘ud r.a meriwayatkan telah diceritakan kepada Rasulullah SAW berkenaan dengan seorang lelaki yang tidur di malam hari sehingga terlajak waktu Subuh, maka baginda SAW bersabda:

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ أَوْ أُذُنَيْهِ

Ertinya: Lelaki tersebut telah dikencing oleh syaitan di telinganya (atau kedua telinga). Hadis riwayat Imam Al-Bukhari.

Menurut Imam Al-Qurtubi kencing syaitan adalah kencing yang hakiki dan bukan hanya simbolik. Sebab itu ada kalanya kita boleh kenal mereka yang tidak solat Subuh kerana wajahnya yang suram akibat dari kencing syaitan, berbeza dengan merek yang bangun solat Subuh di awal pagi.
Kebesaran dan keagungan solat Subuh berjamaah di Masjid hendaklah dimasukkan ke dalam hati kerana ia akan menangkis bisikan syaitan yang selalu membisikkan rasa ringan meninggalkannya. Bagi para ulama dan ustaz pula hendaklah menanamkan rasa malu dan bersalah yang amat sangat jika tidak hadir solat Subuh berjamaah kerana dia adalah contoh ikutan orang awam.

6) Mengetahui kesan meninggalkan solat subuh@solat berjamaah subuh.

Antara punca jiwa menjadi lemah dan hilangnya banyak daripada kelebihan agama dan dunia ialah bangun lewat dan meninggalkan fardhu subuh. Oleh kerana itulah syaitan sentiasa cuba menghalang orang yang beriman untuk mendapatkan kelebihan di waktu subuh dengan menghalangnya daripada bangun tidur. Nabi SAW bersabda: ((Syaitan mengikat/membelenggu tengkuk di kalangan kamu yang tidur dengan tiga ikatan. Dia memukul di atas ketiga-tiga ikatan (sambil berkata) : Malam masih panjang, teruskan tidur! Jika dia bangun lalu berzikir menyebut nama Allah Taala maka terungkailah satu iakatan, jika dia berwudhuk terungkailah ikatan berikutnya dan jika dia solat maka terungkailah semua ikatan.

Maka pagi itu dia akan cergas dan baik jiwanya, jika tidak dia akan berpagi dalam keadaan jelek dan malas)). HR Al-Bukhari.

Waktu selepas solat Subuh adalah waktu yang penuh dengan kebaikan dan keberkatan, justeru Nabi SAW memelihara waktu tersebut iaitu memenuhkannya dengan zikir dan baginda selalunya selepas subuh terus duduk sambil berzikir sehinggalah terbit matahari, dan kemudian baginda solat dua rakaat Dhuha.Amalan ini menjadi ikutan para ulama salafussoleh, antaranya ialah Imam Ibnu Taimiyyah yang turut melakukan amalan duduk berzikir selepas solat Subuh sehingga terbit matahari sepertimana yang dikhabarkan oleh muridnya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Waktu selepas solat Subuh adalah saat banyaknya kebaikan dan keberkatan, kerana itulah Nabi SAW berdoa:

((اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا))

Maksudnya: Ya Allah berkatilah ummatku di waktu pagi! HR Al-Tirmizi.

Oleh sebab itu kita lihat mereka yang berjaya dalam urusan dunia mereka seperti berniaga, menternak atau bertani memulakan kerja mereka di awal pagi kerana rezki terbuka luas di waktu tersebut. Begitulah juga dalam urusan akhirat waktu pagi adalah saat yang paling baik menambahkan amal ibadah. Oleh itu mereka yang mengsia-siakan waktu tersebut dengan tidur atau berehat-rehat sahaja sebenarnya telah mendapat kerugian dalam hidup mereka.
Di samping kelebihan dalam kerja dan ibadah, mereka yang bangun awal juga mendapat kebaikan dari sudut kesihatan kerana udara yang dihirup di waktu subuh adalah udara yang segar dan akan hilang kesegarannya apabila terbitnya matahari. Kesegaran udara di waktu pagi ini akan mencerdaskan otak, mendamaikan jiwa dan mencergasan fizikal.

7) Menjauhi sifat-sifat munafiq.

Kehadiran diri ke Masjid di waktu subuh adalah merupakan bukti kekuatan iman seseorang Muslim dan bebasnya diri dari sifat minafiq kerana ia adalah waktu paling sukar untuk melaksanakan ketaatan. Rasulullah SAW bersabda:
((إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةَ عَلَى المـُـنَافِقِيْنَ صَلَاةُالعِشَاءِ وَالفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوهُمَا وَلَوْ حَبْوًا))
Maksudnya: (( Sesungguhnya solat yang paling berat bagi mereka yang munafik ialah solat Isyak dan solat Subuh, kalaulah mereka tahu kelebihan kedua-duanya nescaya mereka akan datang melaksanakannya meskipun dalam keadaan merangkak)) HR Al-Bukhari dan Muslim.
Abdullah bin Mas ‘ud r.a berkata: “Engkau telah melihat kami dan tidak meninggalkannya (solat Subuh) melainkan munafiq yang dimaklumi sifat nifaqnya”. Riwayat Muslim, Abu Daud, Al-Nasai dan Ibnu Majah.

Ibnu Umar r.a pula berkata: “Apabila kami dapati ada lelaki yang tidak hadir solat (di Masjid) pada waktu fajar (Subuh) dan Isyak kami akan berburuk sangka terhadapnya”. Riwayat Al-Bazzar, Al-Tobrani dan Ibnu Khuzaimah.

Oleh itu jika anda mahu mengukur secara zahir iman seseorang maka ia boleh diukur dengan keadaan solat Subuhnya. Jika dia seorang yang sangat memelihara solat Subuh dan melaksanakannya secara berjamaah di Masjid maka ia menjadi bukti kepada kekuatan imannya. Namun jika sebaliknya, dia sangat malas berjamaah di Masjid waktu subuh maka itu adalah petanda imannya yang bermasalah serta kekerasan hatinya. Ia juga menunjukkan ketundukannya kepada hawa nafsu dan kekalahannya kepada bisikan syaitan. Seseorang yang mampu bangun untuk pergi berjamaah di waktu Subuh adalah bukti kekuatan iman seseorang kerana dia telah menang dalam peperangan dengan hawa nafsu dan hasutan syaitan supaya terus tidur.

Bagi mereka yang terus tidur, apakah mereka berasa lebih seronok diulit mimpi di atas katil sedangkan ahli jamaah yang lain sedang beribadah dan mendengar bacaan Al-Quran di dalam solat di Masjid. Adalah menjadi satu kerugian yang besar bagi mereka yang tidak merasakan apa-apa kekurangan pada diri mereka sedangkan mereka terus jauh dari rahmat Allah Taala di waktu pagi.

Ust Zuridan Al-Teminie

Thursday, August 4, 2011

Sharing is Loving -....Tenanglah Hati ( Artikel dari iluvislam)


Setiap hari kita ketawa.
Setiap hari kita jumpa kawan.
Setiap hari kita dapat apa yang kita inginkan.

Tetapi... kenapa hati kita tak gembira?
Kita sembahyang setiap hari. Kita berdoa selalu pada Allah. Kita mintak sungguh-sungguh pada Allah. Tetapi... kenapa susah sangat doa kita nak makbul? Sedangkan Allah ada berfirman, "Berdoalah pada Ku, nescaya akan Ku kabulkan..."
Apa masalah kita?

Hati kita tidak gembira sebab kita tidak pernah bersyukur dengan apa yang kita ada. Kita tak pernah nak menghargai setiap nikmat yang kita dapat. Kita asyik memikirkan benda yang kita tak ada, sampai kita lupa melihat nikmat di sekeliling kita.

Kita berdoa, tetapi kenapa payah sangat doa kita Allah nak makbulkan?

Sebab kita asyik meminta pada Allah, tetapi kita tak pernah mintak ampun pada Allah, sedangkan dosa-dosa kita terlampau banyak pada Allah. Alangkah tidak malunya kita.

Kita merintih, kita merayu agar Allah makbulkan doa kita. Tetapi, lepas kita dapat kesenangan kita lupa pada Allah, kita tidak bersyukur pada Allah. Apabila datang kesusahan, baru ingat Allah balik. Baru nak menangis, merintih... mintak Allah pandang kita. Macam mana Allah nakmakbulkan doa kita?

Cuba kita renung diri kita kita. Cuba hitung, berapa kali kita sebut kalimah syukur dalam satu hari? Tak payah seminggu, cukuplah sehari sahaja. Berapa kali agaknya? Itupun kalau ada sebut la...
Pernah kita bangun malam, solat sunat? Solat tahajud? Solat taubat? Pernah?

Ada, mungkin ada, tapi dulu... waktu zaman sekolah dulu. Itupun, lepas kena ketuk dengan warden, suruh bangun. Lepas tu... ada? Ada, time dah nak exam... waktu rasa result macam ada aura nak fail. Siap buat solat hajat lagi! Lepas dapat result tu, ada tak buat sujud syukur?Hmm... entah latak ingat pulak.

Hari-hari kita buat baik. Kita tolong orang. Kita sedekah dekat orang. Kita buat macam-macam. Tetapi kenapa kita tak dapat nak rasa kemanisan setiap perbuatan yang kita lakukan itu? Hati kita tetap juga tak tenang. Kenapa ye?
Sebab dalam hati kita tak ada sifat ikhlas. Mulut cakap ikhlas, hati kata lain. Macam mana tu? Kita tolong orang sebab nak harapkan balasan. Nakkan pujian. Nakkan nama. Kita riak dengan setiap kebaikan yang kita buat. Macam mana hati nak tenang?

Bila dapat kejayaan, kita bangga dengan apa yang kita ada. Mula nak menunjuk-nunjuk dekat orang. Sampai lupa siapa sebenarnya yang bagi kejayaan itu dekat kita.

Alangkah tidak malunya kita... sedangkan Allah menciptakan kita sebagai khalifah di bumi ni.
Kitalah sebaik-baik kejadian yang Allah pernah ciptakan sehingga semua makhluk sujud pada bapa kita, Nabi Adam kecuali Iblis Laknatullah.

Betapa Allah muliakan kejadian manusia.
Tapi, kita sendiri tidak memelihara diri kita. Kita lupa tanggungjawab kita sebagai hamba. Kita lupa kepada yang mencipta diri kita. Bahkan, kita alpa dengan nikmat yang ada.

Nabi Muhammad S.A.W, pada saat malaikat ingin mencabut nyawa Baginda, Baginda masih memikirkan umat-umatnya. Ummati! Ummati! Sampai begitu sekali sayang Rasulullah pada kita. Tapi kita...? Kita lupa pada Baginda Rasul. Berat benar lidah kita nak berselawat ke atas Baginda. Macam mana hati kita nak tenang?

Lembutkanlah hati kita. Tundukkanlah diri kita pada Allah. Bersyukur dengan nikmat yang Allah pinjamkan pada kita. Semua itu tidak akan kekal. Bila-bila masa Allah boleh tarik balik semua itu. Ikhlaskanlah hati dalam setiap perkara yang kita buat.

Sesungguhnya, hanya Allah sahaja yang berkuasa menilai keikhlasan hati kita. Insya-Allah, kita akan dapat merasai kelazatan halawatul Iman itu sendiri. Tenanglah dikau, wahai hati...

- Artikel iluvislam.com

Sunday, July 24, 2011

SHARING IS LOVING - ALFATIHAH BUAT MAK..MOGA MAK TENANG DI SANA..AMIN YA ALLAH



Assalamualaikum..Lepas Maghrib ini bermakna telah 11 Hari mak menghadap ilahi..Penguasa Seisi ALAM ....dan pada hari Rabu lepas adalah ulangtahun kelahiran mak..Moga mak bahagia di sana..mga mak dirahmati Allah sampai ke Syurga..mga segala amalan mak diberi rahmat dan Redha Allah..dan moga segala apa yang Cinta lakukan diredhai Allah dan sampai Kebaikan buat ibu tercinta Hajjah Mahawa binti Mad Yassin...Alfatihah buat mu wanita Idola ku...Amin ya Allah

Wednesday, July 6, 2011

SHARING IS LOVING - INILAH MAKNANYA BAHAGIA




Semalam saya di UIA Kuantan – menjelaskan apa, kenapa dan bagaimana membentuk golongan Mukmin Profesional. Dalam sesi soal jawab kemudiannya, seorang pelajar telah bertanya apakah itu bahagia? Oleh kerana soalan terlalu banyak, dan penjelasan memerlukan masa yang agak panjang, maka saya berjanji untuk menjelaskannya dalam blog genta-rasa ini.
Untuk anak-anak yang bertanya, dan untuk saudara/i yang pengunjung blog yang setia, saya hulurkan tulisan ringkas ini sebagai jawapan kepada pertanyaan, apa itu bahagia?
INILAH MAKNA BAHAGIA…
Bahagia itu fitrah tabie manusia. Semua orang ingin bahagia. Jika ada manusia yang berkata, alangkah bahagianya kalau aku tidak bahagia, dia layak dihantar ke Hospital Bahagia. Kenapa? Sudah tentu orang itu tidak siuman lagi. Manusia yang siuman sentiasa ingin dan mencari bahagia. Bahkan, apa sahaja yang diusahakan dan dilakukan oleh manusia adalah untuk mencapai bahagia.

• Bahagia itu relatif?

Malangnya, keinginan manusia untuk bahagia sering tidak kesampaian. Ini disebabkan ramai manusia tidak tahu apa makna bahagia sebenarnya dan mereka juga tidak tahu bagaimanakah caranya untuk mendapatkannya. Jika kita mencari sesuatu yang tidak diketahui dan dikenali, sudah pasti kita tidak akan menemuinya. Oleh itu, usaha mencari kebahagiaan itu mestilah bermula dengan mencari apa erti kebahagiaan itu terlebih dahulu.
Apakah erti bahagia? Ada yang beranggapan erti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeza antara seorang individu dengan yang lain. Bagi yang sakit, sihat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sihat, kebahagiaan itu bukan pada kesihatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah satu “moving target” yang tidak spesifik ertinya.  
Ada pula golongan pesimis. Mereka beranggapan bahawa tidak ada bahagia di dunia ini. Hidup adalah untuk menderita. Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia, ilusi atau angan-angan. Ia tidak ujud dalam realiti dan kenyataan.
 Sumber dalaman atau luaran?
Sebelum mendapat jawapan tentang erti kebahagiaan yang sebenar, mesti dipastikan sumber kebahagiaan itu. Ia datang dari mana? Apakah bahagia itu datang dari luar ke dalam (outside-in) atau dari dalam ke luar (inside-out)?
Ramai yang merasakan bahawa bahagia itu bersumber dari faktor luaran. Ia bersumber daripada harta, kuasa, rupa, nama dan kelulusan yang dimiliki oleh seseorang. Golongan ini merasakan jika berjaya menjadi hartawan, negarawan, bangsawan, rupawan, kenamaan dan cendekiawan maka secara automatik bahagialah mereka.
Atas keyakinan itu ramai yang berhempas pulas dan sanggup melakukan apa sahaja untuk memiliki harta, kuasa dan lain-lain lagi. Kita tidak bahaskan mereka yang miskin, hodoh, tidak popular dan bodoh, lalu gagal merasakan bahagia tetapi mari kita tinjau apakah hidup para hartawan, rupawan, bangsawan, kenamaan dan cendekiawan itu bahagia?
 Realiti hidup jutawan, rupawan dan selebriti.
Realitinya, sudah menjadi “rules of life” (sunatullah), manusia tidak mendapat semua yang diingininya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelakkan diri daripada sesuatu yang tidak disenanginya. Hidup adalah satu ujian yang menimpa semua manusia, tidak kira kedudukan, harta dan pangkatnya. Firman Allah:
“Dijadikan mati dan hidup adalah untuk menguji manusia siapakah yang terbaik amalannya.” Al Mulk.
Si kaya mungkin memiliki harta yang berjuta, tetapi mana mungkin dia mengelakkan diri daripada sakit, tua dan mati? Inilah yang berlaku kepada Cristina Onasis pewaris kekayaan ayahnya Aristotle Onasis, yang mati pada usia yang masih muda walaupun memiliki harta yang berbilion dollar. Mereka yang rupawan, tidak boleh mengelakkan diri daripada cercaan. Madonna, Paris Hilton (sekadar menyebut berapa nama) pernah dikutuk akibat kelakuan buruk masing-masing. Lady Diana yang memiliki semua pakej kelebihan wanita idaman akhirnya mati dalam keadaan yang tragis dan menyedihkan sekali.
John Lenon tidak dapat mengelakkan diri daripada dibunuh walaupun dirinya dipuja oleh jutaan peminat. Elizabeth Taylor pula sedang membilang usia yang kian meragut kecantikan dan potongan badannya. Itu belum dikira lagi nasib malang yang menimpa negarawan dan bangsawan tersohor seperti Al Malik Farouk (Masir), Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos (Filipina), Louis XVI (Perancis), Tsar (Rusia) dan lain-lain lagi. Tegasnya, kesakitan, cercaan, dijatuhkan dan lain-lain ujian hidup telah menumpaskan ramai hartawan, rupawan, negarawan dan cendekiawan dalam perlumbaan mencari kebahagiaan.
• Bukti hilangnya bahagia.
Apa buktinya, mereka hilang bahagia? Tidak payah kita berhujah menggunakan Al Quran dan Al Hadis, melalui paparan media massa sahaja sudah cukup menjadi bukti betapa tidak bahagianya mereka yang memiliki segala-galanya itu. Aneh, apabila selebriti dari Hollywood, yakni mereka yang memiliki rupa yang cantik, harta yang berbilion dolar, nama yang tersohor tetapi dilanda pelbagai masalah kronik. Senarai nama yang berkenaan cukup panjang …
Mereka yang terlibat dengan arak, rumah tangga cerai berai, dadah, jenayah, sakit jiwa dan bunuh diri ini sudah tentu tidak bahagia. Jika mereka bahagia dengan nama, harta dan rupa yang dimiliki tentulah mereka tidak akan terlibat dengan semua kekacauan jiwa dan kecelaruan peribadi itu. Tentu ada sesuatu yang “hilang” di tengah lambakan harta, rupa yang cantik dan nama yang popular itu.
• Ujian hidup punca hilang bahagia?
Mari kita lihat persoalan ini lebih dekat. Apakah benar ujian hidup menghilangkan rasa bahagia dalam kehidupan ini? Apakah sakit, usia tua, cercaan manusia, kemiskinan, kegagalan, kekalahan dan lain-lain ujian hidup menjadi sebab hilangnya bahagia? Jawabnya, tidak!
Jika kita beranggapan bahawa ujian hidup itu penyebab hilangnya bahagia maka kita sudah termasuk dalam golongan pesimis yang beranggapan tidak ada kebahagiaan di dunia. Mengapa begitu? Kerana hakikatnya hidup adalah untuk diuji. Itu adalah peraturan hidup yang tidak boleh dielakkan. Sekiranya benar itu penyebab hilangnya bahagia, maka tidak ada seorang pun manusia yang akan bahagia kerana semua manusia pasti diuji.
Atas dasar itu, ujian hidup bukan penyebab hilangnya bahagia. Sebagai perumpamaannya, jika air limau nipis diletakkan di atas tangan yang biasa, maka kita tidak akan berasa apa-apa. Sebaliknya, jika air limau itu dititiskan di atas tangan yang luka maka pedihnya akan terasa. Jadi apakah yang menyebabkan rasa pedih itu? Air limau itu kah atau tangan yang luka itu? Tentu jawapannya, luka di tangan itu.
• Metafora air limau dan luka di tangan
Air limau itu adalah umpama ujian hidup, manakala tangan yang luka itu ialah hati yang sakit. Hati yang sakit ialah hati yang dipenuhi oleh sifat-sifat mazmumah seperti takbur, hasad dengki, marah, kecewa, putus asa, dendam, takut, cinta dunia, gila puji, tamak dan lain-lain lagi. Ujian hidup yang menimpa diri hakikatnya menimbulkan sahaja sifat mazmumah yang sedia bersarang di dalam hati. Bila diuji dengan cercaan manusia, timbullah rasa kecewa, marah atau dendam. Bila diuji dengan harta, muncullah sifat tamak, gila puji dan takbur.
Justeru, miskin, cercaan manusia dan lain-lain itu bukanlah penyebab hilang bahagia tetapi rasa kecewa, marah dan tidak sabar itulah yang menyebabkannya. Pendek kata, ujian hidup hakikatnya hanya menyerlahkan sahaja realiti hati yang sudah tidak bahagia lama sebelum ia menimpa seseorang.
Dengan segala hujah di atas terbuktilah bahawa pendapat yang mengatakan bahagia itu datang dari luar ke dalam adalah tertolak sama sekali. Ini kerana faktor “kesihatan” hati jelas lebih dominan dalam menentukan bahagia atau tidaknya seseorang berbanding segala faktor luaran. Ini secara tidak langsung menunjukkan bahawa kebahagiaan itu datang dari dalam ke luar – soal hati.
• Inilah erti bahagia
Secara mudah kebahagiaan itu ialah memiliki hati yang tenang dalam menghadapi apa jua ujian dalam kehidupan. Inilah erti bahagia yang sebenar selaras petunjuk Allah di dalam Al Quran. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang.” Al Ra’du 28.
Rasulullah S.A.W. juga telah bersabda:
” Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak maka rosak pulalah seluruh badan. Ingatlah ia adalah hati. ” (riwayat Bukhari Muslim)
Rasulullah S.A.W bersabda lagi:
” Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan itu sebenarnya ialah kaya hati “
Kaya hati bermaksud hati yang tenang, lapang dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki – bersyukur dengan apa yang ada, sabar dengan apa yang tiada.
Oleh itu hati perlu dibersihkan serta dipulihara dan dipelihara “kesihatannya” agar lahir sifat-sifat mazmumah seperti amanah, sabar, syukur, qanaah, reda, pemaaf dan sebagainya. Kemuncak kebahagiaan ialah apabila hati seseorang mampu mendorong pemiliknya melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan dan larangan yang ditentukan oleh Islam dengan mudah dan secara “auto pilot”.
KAEDAH MENCARI BAHAGIA MENURUT AL QURAN DAN AS SUNAH:
1. Beriman dan beramal salih.
“Siapa yang beramal salih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)
Ibnu ‘Abbas RA meriwayatkan bahawa sekelompok ulama mentafsirkan bahawa kehidupan yang baik (dalam ayat ini) ialah rezeki yang halal dan baik (halalan tayyiban). Sayidina Ali pula mentafsirkannya dengan sifat qana’ah (merasa cukup). Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, meriwayatkan bahawa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.
2. Banyak mengingat Allah .
Dengan berzikir kita akan mendapat kelapangan dan ketenangan sekali gus bebas daripada rasa gelisah dan gundah gulana. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingat (berzikir) kepada Allah akan tenang hati itu.” (Ar-Ra’d: 28)
3. Bersandar kepada Allah.
Dengan cara ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa dan kecewa. Allah berfirman:
“Siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)
4. Sentiasa mencari peluang berbuat baik.
Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan mahupun perbuatan dengan ikhlas dan mengharapkan pahala daripada Allah akan memberi ketenangan hati.
Firman-Nya:
“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu karena mengharapkan keredaan Allah, nescaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)
5. Tidak panjang angan-angan tentang masa depan dan tidak meratapi masa silam.
Fikir tetapi jangan khuatir. Jangan banyak berangan-angan terhadap masa depan yang belum pasti. Ini akan menimbulkan rasa gelisah oleh kesukaran yang belum tentu datang. Juga tidak terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan semula. Rasulullah SAW bersabda: “Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi mu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpa mu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini nescaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaitan.” (HR. Muslim)
6. Melihat “kelebihan” bukan kekurangan diri.
Lihatlah orang yang di bawah dari segi kehidupan dunia, misalnya dalam kurniaan rezeki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Lihatlah orang yang di bawah kamu dan jangan melihat orang yang di atas kamu karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Jangan mengharapkan ucapan terima kasih manusia.

Ketika melakukan sesuatu kebaikan, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan manusia. Berharaplah hanya kepada Allah. Kata bijak pandai, jangan mengharapkan ucapan terima kasih kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Malah ada di antara hukama berkata, “sekiranya kita mengharapkan ucapan terima kasih daripada manusia nescaya kita akan menjadi orang yang sakit jiwa!”. Firman Allah:
“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al Insan: 9)
ZIKRULLAH YANG MEMBAWA BAHAGIA
Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Zikrullah akan memberi ketenangan buat hati. Ketenangan hati itulah kebahagiaan sebenar. Tetapi kenapa ada orang yang berzikir tetapi hati tidak ataupun belum tenang? (Untuk mendapat jawapannya, tolong rujuk kembali entri dalam blog ini dalam tajuk: Mencari Ketenangan Hati)
Hati adalah sumber dari segala-galanya dalam hidup kita, agar kehidupan kita baik dan benar, maka kita perlu menjaga kebersihan hati kita. Jangan sampai hati kita kotori dengan hal-hal yang dapat merosak kehidupan kita apalagi sampai merosak kebahagiaan hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti.
Ingatlah, untuk menjaga kebersihan hati, (selalin berzikir) kita perlu menjaga penglihatan, pendengaran, fikiran, ucapan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menjaga hal-hal tersebut kita dapat menjaga kebersihan hati kita. Dengan hati yang bersih kita gapai kebahagiaan dunia dan akhirat.  Jadi berhati-hatilah menjaga hati kerana ia adalah punca ketenangan dan kebahagiaan diri!
Kita harus melatih hati kita supaya sentiasa berniat baik dan inginkan sesuatu yang baik. Sentiasa riang, gembira dan tenang dengan setiap pekerjaan yang dilakukan. Sentiasa melakukan kerja amal, tolong menolong, bergotong royong, sentiasa bercakap benar, sopan dan hidup dengan berkasih sayang antara satu dengan lain.
Marilah kita bersihkan hati kita dari segala kotorannya dengan memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbanyak doa agar Allah SWT mengurniakan kita hati yang bersih dan selalu dekat dengan-Nya. Itulah beberapa hal yang mungkin dapat kita jadikan landasan untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat nanti.
Sebenarnya kebahagiaan hidup yang hakiki dan ketenangan hanya didapatkan dalam agama Islam yang mulia ini. Sehingga yang dapat hidup bahagia dalam erti yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berpegang teguh dengan agama.
APA ITU BAHAGIA?
Oleh: Pahrol Mohamad Juoi
Jika ada manusia yang berkata, alangkah bahagianya kalau aku tidak bahagia, maka sudah tentu dia tidak siuman lagi kerana bahagia itu merupakan fitrah semula jadi setiap manusia. Tidak ada manusia yang tidak inginkannya. Bahkan, apa sahaja yang diusahakan dan dilakukan oleh manusia adalah untuk mencapai bahagia.
• Bahagia itu relatif?
Malangnya, keinginan manusia untuk bahagia sering tidak kesampaian. Ini disebabkan ramai manusia tidak tahu apa makna bahagia sebenarnya dan mereka juga tidak tahu bagaimanakah caranya untuk mendapatkannya. Jika kita mencari sesuatu yang tidak diketahui dan dikenali, sudah pasti kita tidak akan menemuinya. Oleh itu, usaha mencari kebahagiaan itu mestilah bermula dengan mencari apa erti kebahagiaan itu terlebih dahulu.
Apakah erti bahagia? Ada yang beranggapan erti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeza antara seorang individu dengan yang lain. Bagi yang sakit, sihat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sihat, kebahagiaan itu bukan pada kesihatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah satu “moving target” yang tidak spesifik ertinya.
Ada pula golongan pesimis. Mereka beranggapan bahawa tidak ada bahagia di dunia ini. Hidup adalah untuk menderita. Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia, ilusi atau angan-angan. Ia tidak ujud dalam realiti dan kenyataan.
• Sumber dalaman atau luaran?
Sebelum mendapat jawapan tentang erti kebahagiaan yang sebenar, mesti dipastikan sumber kebahagiaan itu. Ia datang dari mana? Apakah bahagia itu datang dari luar ke dalam (outside-in) atau dari dalam ke luar (inside-out)?
Ramai yang merasakan bahawa bahagia itu bersumber dari faktor luaran. Ia bersumber daripada harta, kuasa, rupa, nama dan kelulusan yang dimiliki oleh seseorang. Golongan ini merasakan jika berjaya menjadi hartawan, negarawan, bangsawan, rupawan, kenamaan dan cendekiawan maka secara automatik bahagialah mereka.
Atas keyakinan itu ramai yang berhempas pulas dan sanggup melakukan apa sahaja untuk memiliki harta, kuasa dan lain-lain lagi. Kita tidak bahaskan mereka yang miskin, hodoh, tidak popular dan bodoh, lalu gagal merasakan bahagia tetapi mari kita tinjau apakah hidup para hartawan, rupawan, bangsawan, kenamaan dan cendekiawan itu bahagia?
• Realiti hidup jutawan, rupawan dan selebriti.
Realitinya, sudah menjadi “rules of life” (sunatullah), manusia tidak mendapat semua yang diingininya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelakkan diri daripada sesuatu yang tidak disenanginya. Hidup adalah satu ujian yang menimpa semua manusia, tidak kira kedudukan, harta dan pangkatnya. Firman Allah:
“Dijadikan mati dan hidup adalah untuk menguji manusia siapakah yang terbaik amalannya.” Al Mulk.
Si kaya mungkin memiliki harta yang berjuta, tetapi mana mungkin dia mengelakkan diri daripada sakit, tua dan mati? Inilah yang berlaku kepada Cristina Onasis pewaris kekayaan ayahnya Aristotle Onasis, yang mati pada usia yang masih muda walaupun memiliki harta yang berbilion dollar. Mereka yang rupawan, tidak boleh mengelakkan diri daripada cercaan. Madonna, Paris Hilton (sekadar menyebut berapa nama) pernah dikutuk akibat kelakuan buruk masing-masing. Lady Diana yang memiliki semua pakej kelebihan wanita idaman akhirnya mati dalam keadaan yang tragis dan menyedihkan sekali.
John Lenon tidak dapat mengelakkan diri daripada dibunuh walaupun dirinya dipuja oleh jutaan peminat. Elizabeth Taylor pula sedang membilang usia yang kian meragut kecantikan dan potongan badannya. Itu belum dikira lagi nasib malang yang menimpa negarawan dan bangsawan tersohor seperti Al Malik Farouk (Masir), Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos (Filipina), Louis XVI (Perancis), Tsar (Rusia) dan lain-lain lagi. Tegasnya, kesakitan, cercaan, dijatuhkan dan lain-lain ujian hidup telah menumpaskan ramai hartawan, rupawan, negarawan dan cendekiawan dalam perlumbaan mencari kebahagiaan.
• Bukti hilangnya bahagia.
Apa buktinya, mereka hilang bahagia? Tidak payah kita berhujah menggunakan Al Quran dan Al Hadis, melalui paparan media massa sahaja sudah cukup menjadi bukti betapa tidak bahagianya mereka yang memiliki segala-galanya itu. Aneh, apabila selebriti dari Hollywood, yakni mereka yang memiliki rupa yang cantik, harta yang berbilion dolar, nama yang tersohor tetapi dilanda pelbagai masalah kronik. Senarai nama yang berkenaan cukup panjang (lihat sebahagian fakta yang dipaparkan).
Mereka yang terlibat dengan arak, rumah tangga cerai berai, dadah, jenayah, sakit jiwa dan bunuh diri ini sudah tentu tidak bahagia. Jika mereka bahagia dengan nama, harta dan rupa yang dimiliki tentulah mereka tidak akan terlibat dengan semua kekacauan jiwa dan kecelaruan peribadi itu. Tentu ada sesuatu yang “hilang” di tengah lambakan harta, rupa yang cantik dan nama yang popular itu.
• Ujian hidup punca hilang bahagia?
Mari kita lihat persoalan ini lebih dekat. Apakah benar ujian hidup menghilangkan rasa bahagia dalam kehidupan ini? Apakah sakit, usia tua, cercaan manusia, kemiskinan, kegagalan, kekalahan dan lain-lain ujian hidup menjadi sebab hilangnya bahagia? Jawabnya, tidak!
Jika kita beranggapan bahawa ujian hidup itu penyebab hilangnya bahagia maka kita sudah termasuk dalam golongan pesimis yang beranggapan tidak ada kebahagiaan di dunia. Mengapa begitu? Kerana hakikatnya hidup adalah untuk diuji. Itu adalah peraturan hidup yang tidak boleh dielakkan. Sekiranya benar itu penyebab hilangnya bahagia, maka tidak ada seorang pun manusia yang akan bahagia kerana semua manusia pasti diuji.
Atas dasar itu, ujian hidup bukan penyebab hilangnya bahagia. Sebagai perumpamaannya, jika air limau nipis diletakkan di atas tangan yang biasa, maka kita tidak akan berasa apa-apa. Sebaliknya, jika air limau itu dititiskan di atas tangan yang luka maka pedihnya akan terasa. Jadi apakah yang menyebabkan rasa pedih itu? Air limau itu kah atau tangan yang luka itu? Tentu jawapannya, luka di tangan itu.
• Metafora air limau dan luka di tangan
Air limau itu adalah umpama ujian hidup, manakala tangan yang luka itu ialah hati yang sakit. Hati yang sakit ialah hati yang dipenuhi oleh sifat-sifat mazmumah seperti takbur, hasad dengki, marah, kecewa, putus asa, dendam, takut, cinta dunia, gila puji, tamak dan lain-lain lagi. Ujian hidup yang menimpa diri hakikatnya menimbulkan sahaja sifat mazmumah yang sedia bersarang di dalam hati. Bila diuji dengan cercaan manusia, timbullah rasa kecewa, marah atau dendam. Bila diuji dengan harta, muncullah sifat tamak, gila puji dan takbur.
Justeru, miskin, cercaan manusia dan lain-lain itu bukanlah penyebab hilang bahagia tetapi rasa kecewa, marah dan tidak sabar itulah yang menyebabkannya. Pendek kata, ujian hidup hakikatnya hanya menyerlahkan sahaja realiti hati yang sudah tidak bahagia lama sebelum ia menimpa seseorang.
Dengan segala hujah di atas terbuktilah bahawa pendapat yang mengatakan bahagia itu datang dari luar ke dalam adalah tertolak sama sekali. Ini kerana faktor “kesihatan” hati jelas lebih dominan dalam menentukan bahagia atau tidaknya seseorang berbanding segala faktor luaran. Ini secara tidak langsung menunjukkan bahawa kebahagiaan itu datang dari dalam ke luar – soal hati.
• Inilah erti bahagia
Secara mudah kebahagiaan itu ialah memiliki hati yang tenang dalam menghadapi apa jua ujian dalam kehidupan. Inilah erti bahagia yang sebenar selaras petunjuk Allah di dalam Al Quran. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang.” Al Ra’du 28.
Rasulullah S.A.W. juga telah bersabda:
” Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak maka rosak pulalah seluruh badan. Ingatlah ia adalah hati. ” (riwayat Bukhari Muslim)
Rasulullah S.A.W bersabda lagi:
” Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan itu sebenarnya ialah kaya hati “
Kaya hati bermaksud hati yang tenang, lapang dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki – bersyukur dengan apa yang ada, sabar dengan apa yang tiada.
Oleh itu hati perlu dibersihkan serta dipulihara dan dipelihara “kesihatannya” agar lahir sifat-sifat mazmumah seperti amanah, sabar, syukur, qanaah, reda, pemaaf dan sebagainya. Kemuncak kebahagiaan ialah apabila hati seseorang mampu mendorong pemiliknya melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan dan larangan yang ditentukan oleh Islam dengan mudah dan secara “auto pilot”.
KAEDAH MENCARI BAHAGIA MENURUT AL QURAN DAN AS SUNAH:
1. Beriman dan beramal salih.
“Siapa yang beramal salih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)
Ibnu ‘Abbas RA meriwayatkan bahawa sekelompok ulama mentafsirkan bahawa kehidupan yang baik (dalam ayat ini) ialah rezeki yang halal dan baik (halalan tayyiban). Sayidina Ali pula mentafsirkannya dengan sifat qana’ah (merasa cukup). Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, meriwayatkan bahawa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.
2. Banyak mengingat Allah .
Dengan berzikir kita akan mendapat kelapangan dan ketenangan sekali gus bebas daripada rasa gelisah dan gundah gulana. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingat (berzikir) kepada Allah akan tenang hati itu.” (Ar-Ra’d: 28)
3. Bersandar kepada Allah.
Dengan cara ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa dan kecewa. Allah berfirman:
“Siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)
4. Sentiasa mencari peluang berbuat baik.
Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan mahupun perbuatan dengan ikhlas dan mengharapkan pahala daripada Allah akan memberi ketenangan hati.
Firman-Nya:
“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu karena mengharapkan keredaan Allah, nescaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)
5. Tidak panjang angan-angan tentang masa depan dan tidak meratapi masa silam.
Fikir tetapi jangan khuatir. Jangan banyak berangan-angan terhadap masa depan yang belum pasti. Ini akan menimbulkan rasa gelisah oleh kesukaran yang belum tentu datang. Juga tidak terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan semula. Rasulullah SAW bersabda: “Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi mu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpa mu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini nescaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaitan.” (HR. Muslim)
6. Melihat “kelebihan” bukan kekurangan diri.
Lihatlah orang yang di bawah dari segi kehidupan dunia, misalnya dalam kurniaan rezeki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Lihatlah orang yang di bawah kamu dan jangan melihat orang yang di atas kamu karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7. Jangan mengharapkan ucapan terima kasih manusia.
Ketika melakukan sesuatu kebaikan, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan manusia. Berharaplah hanya kepada Allah. Kata bijak pandai, jangan mengharapkan ucapan terima kasih kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Malah ada di antara hukama berkata, “sekiranya kita mengharapkan ucapan terima kasih daripada manusia nescaya kita akan menjadi orang yang sakit jiwa!”. Firman Allah:
“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al Insan: 9)
Sumber : http://genta-rasa.com